Efektivitas Sistem Satu Arah di Kota Depok

sumber: warta kota

 

Hampir satu tahun program Sistem Satu Arah berlaku di beberapa jalan di Kota Depok. Mulai dari banyaknya pro dan kontra yang bergulir hingga akhirnya diberlakukan secara permanen. Dari penilaian awal, SSA (Sistem Satu Arah) ini memang efektif dalam mengurai kemacetan di Kota Depok, dicontohkan, di beberapa ruas jalan seperti Dewi Sartika, Nusantara, dan Arif Rahman Hakim arus lalu lintas dapat terurai dengan lancar. Namun, tidak sedikit kemacetan jadi begeser ke jalan-jalan penghubung ketiga ruas jalan yang diterapkan SSA tersebut. Sebut saja, jalan Pitara, jalan Raya Sawangan, serta jalan-jalan di perumnas Depok 1 yang menjadi imbas adanya SSA tersebut. Ditambah lagi, adanya perlintasan sebidang dengan kereta api di Dewi Sartika yang akan membuat panjang antrian kendaraan yang hampir terjadi 3-5 menit sekali saat kereta melintas pada peak hour pagi atau sore hingga malam hari, serta adanya penumpukan kendaraan di Simpang lima Sandra.

Simpang lima Sandra akan menjadi crowded dan akan banyak panjang antrian kendaraan dari jalan Pitara, Raya Sawangan dan Nusantara. Dengan pengaturan fase eksisting yang ada, akan menambah semakin mengularnya kendaraan hingga 1 km pada tiap ruas jalan pada saat-saat jam sibuk. Dengan semakin banyaknya kendaraan yang melintas pada jam sibuk serta tidak sebandingnya kapasistas yang ada, maka akan semakin menambah masalah-masalah yang ada di Simpang lima Sandra tersebut. V/C rasio kendaraan dengan jaringan jalan yang ada membuat tingkat pelayanan jalan di ketiga ruas tersebut buruk.

Beberapa rekomendasi menyebutkan bahwa jika V/C rasio itu 1 atau lebih dari 1, maka ada perbaikan-perbaikan yaitu pelebaran jalan dan sebagainya. Namun dalam kasus ini, nampaknya akan sulit diterapkan mengingat semakin padatnya daerah serta harga tanah akan melambung tinggi di daerah CBD seperti Pitara maupun Nusantara. Diperlukan pengaturan pengganti yang lebih murah dan dapat mengurai arus lalu lintas yang ada.

Pengaturan pengganti atau tambahan ini hanya perlu ‘membuang’ arus yang ada agar fase pada simpang dapat berjalan normal, dan tidak terjadi dead lock antara arus dari jalan Nusantara ke arah Pitara dan Raya Sawangan, arus dari Pitara yang masuk ke arah Dewi Sartika serta arus dari Raya Sawangan ke Dewi Sartika.

Ada beberapa opsi yang dapat diambil oleh Pemerintah Kota Depok dalam hal ini Dinas Perhubungan dan Satuan Lalu Lintas Polresta Depok dalam merekayasa Simpang Lima Sandra ini, yaitu :

  1. Arus dari Pitara yang ingin mengarah ke Dewi Sartika, diarahkan ke Raya Sawangan. Jalan Raya Sawangan dari Simpang Sandra hingga jembatan depan SMA Bintara dibuat contra flow/satu arah. Begitupun dengan jalan Salak di sejajar sungai, satu arah ke arah Simpang Sandra. Dengan begitu, arus lalu lintas tidak akan deadlock pada Simpang Lima Sandra. Arus dari Nusantara ke arah Pitara dan Sawangan tidak akan tersendat oleh arus dari Pitara, karena arus dari Pitara sudah diarahkan memutar ke jalan Salak terlebih dahulu. Namun, ini dapat menimbulkan sedikit antrian di depan SMA Bintara karena akan ada pertemuan dua arus, serta masyarakat yang dari Pitara akan merasa memutar terlalu jauh hanya untuk melewati Simpang Sandra.
  2. Sama seperti opsi 1, namun arus dari Pitara tidak diarahkan memutar lewat jalan Salak, tetap seperti eksisting saat ini, namun waktu siklus pada lampu APILL diatur ulang dengan menambahkan waktu hijau sedikit lebih banyak untuk arus dari Pitara agar jalan Pitara tidak terjadi crowded. Serta waktu hijau tambahan bagi arus dari Nusantara ke arah Sawangan, serta dari arah Sawangan ke arah Dewi Sartika.

Dengan pengaturan fase yang lebih ‘adil’ akan sedikit mengurai volume lalu lintas di jam-jam sibuk agar tingkat pelayanan jalan serta simpang dapat lebih baik dan tidak terdapat lagi panjang antrian horor yang sering terlihat di pagi atau sore menjelang malam di Simpang Sandra tersebut.

Dari segi transportasi dan sosial, sejatinya Pemerintah Kota Depok telah melakukan berbagai cara agar Depok terus berkembang ke arah yang lebih baik. Namun, kadang kala tidak dapat memuaskan semua elemen-elemen yang ada. Lewat pandangan-pandangan terbuka seperti ini yang sangat diperlukan oleh Pemerintah sebagai peran dari masyarakat dalam ikut andil membangun dan menata kota yang kita cintai ini. Lewat cara ini, penulis hanya dapat menuangkan buah pemikiran penulis yang didapat lewat ilmu yang penulis pelajari di kehidupan pekuliahan penulis. Penulis ingin, Kota Depok semakin maju seperti kota-kota penyangga ibu kota lainnya.

 

Penulis adalah mahasiswa tingkat akhir S1 yang menekuni Transportasi pada Jurusan Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.   

*Suryo Bagus Pratama*